Today: January 17, 2018

Spesialisasi dan Tipologi Kota

August 27, 2014 @ 6:23 am
posted by rahmat yananda

Dalam 4 (empat) siklus gelombang revolusi industri (1787-1845, 1846-1895, 1896-1947 dan 1948-2000) versi Kondratief, semenjak gelombang pertama kota telah menjadi lokasi geografi terjadinya revolusi industri. Gelombang revolusi industri tersebut ditentukan oleh 5 (lima) faktor: inovasi kunci, industri kunci, organisasi industri, angkatan kerja dan geografi (lokasi) (dalam Kim dan Short, 28-29).

Tabel berikut dapat meringkaskannya:

Tabel 1.7. Empat siklus Kondratief

Gelombang Pertama (1787-1845) Gelombang Kedua (1846-1895) Gelombang Ketiga (1896-1947) Gelombang Keempat (1948-2000)
Inovasi Kunci mesin pe- mintal baja bessemer, kapal uap lampu listrik, kendaraan bermotor transistor, komputer
Industri Kunci katun, besi baja mobil dan produk kimia elektronik
Organisasi Industri pabrik ukuran kecil pabrik ukuran besar pabrik skala besar pabrik skala kecil dan besar
Angkatan Kerja mengoperasi- kan mesin pengerajin tidak terampil bipolar
Geografi kota kota konurbasi region industri baru
Sumber: Kim dan Short, 2008: 29

 

Semenjak revolusi industri gelombang pertama dan kedua, kota telah menjadi tempat berlangsungnya pusat kegiatan ekonomi. Pada gelombang ketiga, kota sebagai pusat kegiatan ekonomi saling terhubung membentuk konurbasi. Dan pada gelombang keempat, kota menyatu dalan satu kawasan region industri baru. Pemikiran Kondratief di atas menun- jukan bahwa kota dan kawasan perkotaan selalu terkait dengan kegiatan ekonomi, khususnya industrialisasi yang membutuhkan inovasi, industri, organisasi, angkatan kerja dan geografi.

Kota telah terspesialisasi dalam beberapa aktivitas semenjak abad ke14 dan terklasifikasi dalam industri primer, sekunder dan tersier (MacKen- zie, 1933). Ogburn (1937) mengklasifikasi kota-kota berdasarkan industri dan aktivitas ekonomi dengan 7 (tujuh tipe), antara lain (1) kota perdagang- an, (2) kota pabrik, (3) kota transportasi, (4) kota tambang, (5) kota untuk bersenang-senang, (6) kota resor kesehatan, dan (7) kota sekolah tinggi. Sedangkan Duncan dan Reis (1956) membagi kota atas (a) lokasi regional, (b) aktivitas ekonomi, (c) kekhususan ekonomi, dan (d) ukuran populasi dan rata-rata pertumbuhan ekonomi (dalam Nallari, Griffith dan Yusuf, 2012: 52).

Spesialisasi perkotaan muncul dari pertukaran antara skala ekonomi, secara internal lokalisasi ekonomi mencakup ekonomi pengetahuan yang muncul dari tingkatan pendidikan penduduk kota, disekonomi di dalam industri dan dalam kehidupan (biaya perumahan termasuk sewa, kejahat- an, kepadatan, penggunaan lahan). Industri yang mendapatkan manfaat aglomerasi ekonomi lokal sebagaimana internal ekonomi berlokasi di kota besar. Industri yang bergantung pada aktivitas mandiri untuk meningkatkan produktivitas berlokasi di kota kecil terspesialisasi di mana skala ekonomi industrinya maksimal.

Kota di negara berkembang belum terspesialisasi atau terspesialisasi di banyak fungsi. Sedangkan kota di negara maju telah sangat terspesi- alisasi dengan tahapan ekonomi maju dan urbanisasi. Spesialisasi terkait dengan ukuran populasi. Jasa bisnis dan profesional membutuhkan kota yang memiliki populasi besar. Hal yang sama juga diperlukan oleh industri dengan teknologi tinggi, di mana mereka mendapatkan manfaat aglomerasi lokal seperti industri pesawat terbang di Los Angeles atau segmen riset dan pengembangan industri elektronik di Tokyo. London dan New York sebagai kota global layanan keuangan hanya memiliki sedikit sektor manufaktur [Research and Development (R&D)].

Kota di negara maju tengah melakukan transisi dari manufaktur ke kota jasa dan terspesialisasi untuk beragam aktivitas layanan yang merepresentasikan tipologi kota baru. Di antara tipologi tersebut ter- dapat kota pengetahuan, kota kreatif, kota global, dan kota hijau. Berikut penjelasannya (dalam Nallari, Griffith, dan Yusuf, 2012: 55-82):

Kota Pengetahuan (Knowledge Cities)
Keunggulan komparatif pembangunan ekonomi terletak pada basis pengetahuan. Kebangkitan dan aplikasi berbasis pengetahuan didefinisikan sebagai area daya saing dan pertumbuhan di tingkat lokal, regional, dan nasional. Pengetahuan dapat mengambil bentuk dalam investasi di riset dan pengembangan (R & D), angkatan kerja memiliki kualifikasi dan ketrampilan tinggi, wirausaha berkualitas tinggi, atau ketiganya. Pengetahuan meningkatkan produktivitas melalui inovasi terkait produk, layanan, dan proses (Lever, 2002). Pengetahuan yang berkembang dapat berbentuk tacit dan terkodifikasi. Pengetahuan tacit terbatas pada komunitas yang mempraktikannya dan pengetahuan terkodifikasi dapat diperoleh secara bebas. Dua jenis pengetahuan tersebut ditambah dengan infrastruktur pengetahuan seperti telekomunikasi dianggap sebagai dimensi basis pengetahuan (dalam Nallari, Griffith dan Yusuf, 2012: 54-55).

Tabel berikut memuat dimensi berbasis pengetahuan berdasarkan pengukuran dan hasil:

Tabel 1.8. Dimensi pengetahuan: pengukuran dan hasil

Dimensi    basis    pengeta- huan dan pengukuran Sumber data Hasil-hasil
Pengetahuan tacit Peringkat kota-kota terdepandi empat sektor jasa (akuntasi, periklanan, perbankan dan keungan, serta hukum 

 

 

Koneksitas pelabuhan udara (jumlah koneksi dan perubahan dalam

angka periode 1991-1993)

 

 

Eksebisi pameran dan dagang (in- deks komposit berdasarkan ukuran populasi lokal, tingkat penyewaan, pendapatan per kapita lokal, infra- struktur transportasi dan cuaca)

 

Formasi perusahaan baru

Kelompok riset globalisasi dan kota-kota dunia (Taylor dan Walker, 2001) 

 

 

 

Buursink (1994)

 

 

 

 

 

Studi regresi mendefinisikan keunngulan mengadakan eksibisi pameran dan perdagan- gan (Rubaicaba-Bernejo dan Cuadrado-Roura, 1999)

 

Registrasi perusahaan baru

Kota-kota Alpa (London, Milan dan Paris) Kota Beta (Brusel, Madrid, Moskow danZurich)Kota Gamma (Amsterdam, Barcelona, Berlin, Budapest, Kopenhagen, Dusseldorf, Jenewa, Hamburg, Munich, Praha, Roma, Stokholm, Warsawa)Amsterdam, Brussel, Kopenhagen, Dussel- dorf, Frankfurt, Hannover, London, Munich, Paris, Wina, Zurich

Barcelona, Birmingham, Bologna, Cologne, Dusseldorf, Frankfurt, Hanover, London, Madrid, Milan, Munich, Paris

 

 

 

 

 

 

(tidak dikutip)

Pengetahuan Terkodifikasi Universitas lokalJumlah total publikasi tulisan per1000 penduduk (Matrhews danSchwart, 199) (tidak dikutip)Berlin, Cambridge, Kopenhagen, Edinburg- Glasgow, London, Madrid, Liverpool, Moskow, Oxford-Reading, Paris, Randstadt, Stockholm
Infrastruktur Pengetahuan Peringkat berdasarkan definisi teknis dari biaya jasa-jasa, pilihan infrastruktur fisik yang tersedia, dan ketersediaan koneksi terde- pan dan tercanggih (Finnie, 1998) Amsterdam, Berlin, Brussel, Frankfurt, London, Madrid, Milan, Paris, Stockholm, Zurich

Sumber: Nallari, Griffith dan Yusuf, 2012: 56

Kota Kreatif (The Creative City)
Kota kreatif adalah konsep yang muncul di akhir abad 20. Kota kreatif memiliki konteks spasial terkait kreativitas, pencarian kreativitas individual dan industri, serta menyarankan potensi pembangunan ekonomi. Kota kreatif adalah rumah bagi kelas kreatif (Florida, 2002), yang berfungsi se- bagai mesin perubahan struktural, katalis revitalisasi ekonomi, fasilitator kemitraan publik dan privat, dan sumber cerita sukses perkotaan. Tipologi kota kreatif dapat diaplikasikan pada kota kecil dan kota besar tergantung faktor-faktor berikut (dalam Nallari, Griffith, dan Yusuf, 2012: 65-72) :

1. Kelas kreatif. Kelas kreatif adalah segmen angkatan kerja yang sangat terdidik dan mampu menghasilkan pendapatan sangat baik sehingga korporasi mampu menghasilkan keuntungan dan memicu pertumbuhan ekonomi yang signifikan (Florida (2002: 18). Dampak ekonomi kreativitas bergantung pada tiga T-nya:

  • Talent, atau orang kreatif dari angkatan kerja, berdasarkan demografi, pendidikan dan ciri-ciri pekerjaan
  • Tolerance, atau keragaman berdasarkan indeks terkait orientasi seksual dan kehidupan bebas (bohemian)
  • Technology, atau inovasi yang diukur berdasakan aktivitas paten dan saham teknologi dalam ekonomi

2. Reinvensi dan perubahan struktural. Acs dan Megyesi (2007) me- nyatakan banyak area memberikan kemudahan bagi sumber daya manusia dengan berbagai latar belakang untuk datang dan tinggal. Kekayaan sumber daya manusia dengan beragam kreativitas ini menyuburkan kewirausahaan. Menurut Cohendet, Grandadam dan Simon (2010), merujuk kota sebagai tempat persemaian dan pem- bentukan ide-ide, yang mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi dan kemakmuran. Liu-Wei dan Yin-Ko (2010) menghubungkan kota kreatif dengan kemampuan lingkungan perkotaan mendorong kreati- vitas, inovasi, dan pertumbuhan pendapatan. Markusen (2006) me- nyatakan kota kreatif adalah kampanye strategi revitalisasi baru dari kota industri yang sudah tua dan mengembangkan pembangunan ekonomi dengan menggunakan budaya dan seni sebagai perangkatnya.

Romein dan Trip (2010) menyatakan bahwa perubahan struk- tural muncul dari beberapa kekuatan seperti ekonomi (globalisasi dan pembang-unan ekonomi jasa), geopolitik (mengaburnya batas- batas nasional dan kemunculan region sebagai mesin pertumbuh- an), teknologi (peningkatan teknologi informasi dan komunikasi dan transportasi), dan sosial budaya (komsumsi dan segala fasilitas pendukungnya amenitas), menjanjikan kehadiran kota kreatif. Tidak hanya lapangan kerja yang dilabeli kreatif, keseluruhan cabang-cabang industri yang diterminologi sebagai budaya (seni, pertunjukan, produk warisan, dan produk rancangan kreatif). Manusia kreatif adalah sum- ber daya krusial untuk kinerja ekonomi kota kreatif. Romein dan Trip membedakan miliu produksi inovasi dan miliu konsumsi perkotaan. Keduanya memastikan keberhasilan kota kreatif. Miliu produksi inovasi fokus pada ide inovatif dan proses lahirnya sampai realisasi ke pasar melewati klaster perusahaan karena adanya kedekatan (proximity) perkotaan. Miliu konsumsi perkotaan fokus pada kualitas tempat dan kualitas kehidupan kota.

3. Memaksimalkan Potensi Kota Kreatif. Perserikatan Bangsa- Bangsa (2004)menggarisbawahi beberapa jalan untuk menyalurkan potensi kota kreatif demi memberikan manfaat bagi pembangunan ekonomi:

  • Melakukan regenerasi perkotaan melalui budaya karena melemahnya peran kota industri
  • Membangun kemitraan publik dan privat sebagai kunci kebijakan yang efektif
  • Mengeksploitasi kreativitas sebagai peluang
  • Mengikuti program kota kreatif United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO)
  • Kreativitas berdampak melampaui ekonomi kreatif

Kota Global (Global City)
Kota global adalah terminologi yang dipopulerkan Sassen melalui bukunya berjudul “Global City” (1991). Menurutnya, kota global membuat norma baru. Untuk mewujudkannya, kota haruslah kompleks dan bera- gam. Norma tersebut berfungsi dalam ukuran, tetapi tidak semua kota besar atau kota mega adalah kota global. Misalnya, Tokyo adalah kota global, tetapi Mumbai dan Sao Paolo adalah kota mega dan bukan kota global. Sassen (2010) mengidentifikasi kecenderungan struktural dalam ekonomi yang berkontribusi terhadap kemunculan kota global di dunia. Ke- cenderungan ini disebabkan peningkatan pertumbuhan terhadap layanan jasa intermediasi seperti asuransi, akuntan, hukum, keuangan, konsultasi, program perangkat lunak, dan bahkan sektor tradisional. Jasa-jasa tersebut berlokasi di lingkungan perkotaan di mana pengetahuan tacit dan terkodi- fikasi dimaksimalkan. Ketika operasi perusahaan kurang lokal dan bereks- pansi ke pasar nasional, regional, dan global, operasi manajemen menjadi lebih kompleks dan perusahaan mengalihdayakan fungsi korporat yang sebelumnya dilakukan secara mandiri. Kemajuan teknologi menyuburkan alihdaya di banyak sektor, tetapi kontrol tetap pada pusat. Dan fungsi sentral kantor pusat bertambah difasilitasi oleh perkembangan dan per- tumbuhan sektor intermediasi. Kota menjadi rumah kantor pusat (dalam Nallari, Griffith dan Yusuf, 2012: 73).

Program Indikator Kota Global diciptakan 2006 oleh Bank Dunia un- tuk memantau kinerja anggotanya. Ada 2 (dua) kategori utama, layanan kota dan kualitas hidup, dan diorganisasikan menjadi 20 (duapuluh) tema terdiri atas indikator inti dan indikator pendukung. Kota-kota diharapkan melaporkan indikator-indikator tersebut setiap tahun. Mereka terdiri atas 27 indikator inti dan 38 indikator pendukung. GCIP mengindentifkasi 10 indeks masa depan dari tema-tema bervariasi dan memberikan pandang- an yang lebih lengkap dari kinerja kota atau kualitas hidup. Tabel-tabel berikut menggambarkannya (Nallari, Griffith dan Yusuf, 2012: 75-76):

 

Tabel 1.9. Indikator kota global: jasa-jasa kota

Tema Indikator
Pendidikan Persentasi anak-anak yang menyelesaikan pendidikan primer dan sekunder; rasio murid dan guru
Pemadam Kebakaran Jumlah petugas pemadam kebakaran per 100.000 penduduk; jumlah korban kematian karena kebakaran per 100.000 penduduk
Kesehatan Mortalitas di bawah usia 5 tahun per 1.000 kelahiran; jumlah
tempat tidur pasien di rumah sakit per 100.000 penduduk; jum- lah psikolog per 100.000 penduduk; rata-rata harapan hidup
Rekreasi Fasilitas rekreasi per meter persegi ruang tertutup per kapita;
fasilitas rekreasi per meter persegi ruang terbuka per kapita
Keamanan Jumlah tuna wisma per 100.000 penduduk: jumlah polisi per
100.000 penduduk
Sampah Padat Persentase dari penduduk kota dengan pengumpulan sampah padat regular: persentase jumlah sampaha padat yang didaur ulang
Transportasi Jumlah per kilometer kapasitas tertinggi sistem transportasi publik per 100.000 penduduk; jumlah per kilometer jumlah penumpang sistem kereta api per 100.000 penduduk; jumlah mobil per kapita; jumlah perjalanan tahunan per kapita
Limbah Cair Persentase jumlah penduduk yang dilayani oleh pengumpulan limbah
Air Persentase jumlah penduduk yang mendapatkan layanan pasokan air minum; konsumsi air minum domestik per kapita; persentase jumlah penduduk kota dengan akses berkelanjutan terhadap sumber air yang terus membaik
Energi Persentase jumlah penduduk yang memiliki listrik terotorisasi; penggunaan total listrik per kapita
Keuangan Rasio layanan pemimjaman
Tata Kelola Persentase wanita bekerja di pemerintah kerja
Perencanaan Kota Rasio pekerjaan dan perumahan
Sumber: Nallari, Griffith dan Yusuf, 2012: 75

 

Tabel 1.10. Indikator kota global; kualitas hidup

Tema Indikator
Keterlibatan warga Partisipasi pemilih
Budaya Persentase jumlah pekerja di sektor budaya
Ekonomi Produk kota per kapita; tingkat pengangguran kota
Lingkungan Konsentrasi emisi rumah kaca dengan ukuran per ton per kapita
Hunian Persentase jumlah penduduk tinggal di slum (kumuh)
Pemerataan Sosial Persentase jumlah penduduk yang hidup dalam kemiskinan
Tingkat Kebaha- giaan Indeks kebahagian
Teknologi danInovasi Jumlah koneksi internet per 100.000 penduduk
Sumber: Nallari, Griffith dan Yusuf, 2012: 75

Dari dua indikator utama di atas, indeks yang digunakan indikator program kota global adalah daya saing, modal sosial, kreativitas, tingkat kebahagian, gas rumah hijau, pemakaian energi, tata kelola, akses perkotaan, rekreasi dan budaya, dan kualitas air.

Kota Hijau/Kota Ekologi (Green/Eco City)
Kota merepresentasikan tantangan dan kesempatan bagi kebijakan pe- rubahan iklim (Corfee-Morlot dkk.,2009:3). Dengan jumlah aktivitas yang tinggi, kota bertanggungjawab terhadap produksi terbesar dari emisi gas global. Khusus bagi yang berlokasi di region pesisir, kota sangat rentan terkena dampak perubahan iklim. Kota juga baik untuk lingkungan (Glass- er, 2011: 201), tinggal di gedung tinggi dan berjalan kaki ke tempat kerja baik untuk lingkungan daripada tinggal di suburban dan menggunakan kendaraan untuk datang ke tempat kerja (Jacob, 1961, 1969; Owen,2009).

Salah satu penggagas kota hijau/kota ekologi adalah Ebenezer Howard, yang terkenal dengan konsep kota taman (garden city). Kota taman dikelilingi oleh sabuk hijau untuk melindungi kota dari perluasan melampaui 32.000 penduduk. Penduduk kota ini akan memiliki rumah yang layak dan taman sebagai pusat, sehingga dapat berjalan kaki untuk bekerja ke pabrik yang berlokasi di pinggiran, dan mendapatkan pasokan makanan dari pertanian yang berada di luar sabuk hijau (Kunzig, 2011:
203). Upaya-upaya untuk menyatukan kabupaten dan kota seperti sabuk hijau, kota taman dan lahan parkir, dipicu oleh pertumbuhan suburban di akhir abad 19 (dalam Nallari, Griffith dan Yusuf, 2012: 79).

Menurut Lindfield dan Steinberg (2012: 9-16), kota hijau adalah kota yang telah mencapai atau bergerak ke arah lingkungan yang berkelanjutan di semua aspek. Berbeda dengan kota yang tidak menjaga keberlangsungan lingkungan dalam lintasan pembangunan. Kedua tipe kota ini dibedakan berdasarkan tindakan. Khususnya, apakah tindakan yang me- reka lakukan gagal atau berhasil mencapai peningkatan lingkungan hidup atau menghadapi tantangan lingkungan. Kota dapat dianggap “hijau” apabila memiliki ukuran dalam menyumbang pada lingkungan berkelanjutan. Kota adalah pusat aktivitas ekonomi. Pembangunan berkelanjutan dan aktivitas ekonomi haruslah sejalan. Oleh karena itu, kota hijau mem- butuhkan 6 (enam) investasi agar berjalan berkelanjutan, yaitu :

1. Sistem transportasi berkarbon rendah

2. Industri hijau

3. Bangunan dengan pemakaian energi yang efisien

4. Penghijauan kota

5. Infrastruktur hijau yang memiliki kelentingan (misalnya, inovasi hemat energi seperti solar energi untuk penerangan jalan)

6. Sistem perkotaan yang cerdas

Kota Pintar (Smart City)
Pembangunan industri hampir semuanya terkonsentrasi di perkotaan. Produktivitas tumbuh dari kemajuan teknologi dan inovasi yang dipelopori oleh pusat kota. Seperti pengalaman negara maju, negara hanya memiliki beberapa pusat inovasi atau “kota pintar” (smart cities). Karenanya, dalam konteks indsutrialisasi terletak pada keefektifan kebijakan secara lokal dan nasional, untuk merawat satu atau sejumlah kecil kota pintar yang dinamis secara teknologi dan inovatif, juga menyadari bahwa skala industri dibutuhkan untuk berkontribusi secara substansial pada rata-rata keseluruhan ekonomi nasional (Nallari, Griffith, dan Yusuf, 2012: 90).

Ketika negara-negara Asia Timur dan Amerika Latin mencoba mem- percepat industrialisasi dan ekspor, sangatlah penting untuk membangun kapasitas produksi dalam proses industrialisasi seluasnya. Dengan ber- investasi pada aset produktif dan meminjam teknologi luar, manufaktur dapat dibangun dengan cepat. Hal ini yang menjelaskan kebangkitan in- dustri di Asia, Eropa Timur, dan Amerika Latin. Dan beberapa kemudian menjadi kota pintar (Nallari, Griffith dan Yusuf, 2012: 100).

Berikut atribut-atribut pembentuk kota pintar (Nallari, Griffith, dan Yu- suf, 2012: 100-108) :

Berada di lokasi yang tepat. Kota-kota dengan potensi teknologi dan inovasi dapat dibedakan (1) lokasi strategis berada di region yang makmur dan bertumbuh, (2) perkotaan yang memiliki sejarah pembangunan dan industrialisasi, (3) memiliki lahan yang memadai untuk pengembangan di masa depan. Cuaca, kondisi lingkungan, aksesibilitas, dan amenitas yang potensial secara tradisional lebih tersedia di kota pantai memiliki keunggulan pengangkutan dan kaya dengan daerah pedalaman dan fokus migrasi. Dengan alasan inilah Cina membuka kota-kota pantainya.

Memanfaatkan kecerdasan. Sebelum kota industri menjadi kota pintar, yang utama adalah peningkatan mendalam dan kualitas sumber daya manusia. Kota pintar membutuhkan mekanisme kelembagaan dan infrastruktur riset untuk menghasilkan ide dan cara memperdebatkan, menguji dan menyempurnakan ide tersebut. Kota pintar dapat mencapai pertumbuhan industri cepat dan berkelanjutan dengan bersama-sama dan sepenuhnya memanfaatkan empat bentuk kecerdasan: kecerdasan manusia yang padu dalam jaringan lokal, kecerdasan kolektif dari lembaga yang mendukung inovasi melalui berbagai saluran, kecerdasan produksi berbasis industri dan kecer- dasan artifisial yang berasal dari penggunaan secara efektif jaringan digital dan jasa online (Komninos, 2008).

Menjadi besar atau ada di region perkotaan. Riset ekonomi aglomerasi menunjukan produktivitas kota besar didapatkan dari skala, keragaman dan kepadatan aktivitas dan linearitas super inovasi yang berelasi dengan ukuran kota (Carlino, Chatterjee dan Hunt, 2007; Carlino dan Hunt, 2009; Gill dan Goh, 2010).

Sumber daya manusia dan teknologi tinggi. Secara definisi, ori- entasi ekspor dan keberlanjutan kota adalah salah satu yang mem- produksi dan menarik tenaga kerja terampil dan terlatih meningkat- kan kualitas sumber daya manusia, dan membesarkan sistem inovasi lokal. Kota pintar memiliki rasio yang tinggi pekerja ilmu pengetahuan dan teknologi dalam angkatan kerja.

Industrialisasi dan orientasi ekspor. Manufaktur berorientasi ekspor adalah pra kondisi kemunculan kota pintar. Beberapa jenis industri manufaktur di antara pemimpin inovasi dan telah mencatatkan produk- tivitas yang tinggi. Bahkan di AS, penekanan ekonomi pada jasa, manufaktur mencatatkan 62 persen dari ekspor di 2008, dengan 10 pemimpin area metropolitan dengan kontribusi dominan dari total.

Dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Kota-kota yang layak huni, efisien dalam pemakaian energi dan dilengkapi dengan modal sosial dirancang agar penduduk dapat berjalan kaki. Artinya, kota tersebut rancangannya kompak. Banyak tujuan dapat dicapai dengan berjalan kaki, penggunaan campuran, aman, ramah pejalan kaki dan ter- akses transportasi publik.

Berkelanjutan. Antisipasi perubahan iklim, penyediaan pasokan air bersih dan energi sebagaimana infrastruktur limbah padat dan lim- bah cair sebagai manajemen polusi. Kualitas tata kelola, perenca- naan keuangan, instrumen pajak lokal, transfer keuangan antarpe- merintah, aturan keuangan, dan prosedur akuntasi mempengaruhi keberlanjutan.

Terkoneksi. Koneksi perkotaan penting dalam dua tingkatan. Metropolitan yang berhasil bersifat terbuka, berorientasi perdagangan, dan inovatif. Dalam lingkungan global, itu semua bergantung pada kualitas transportasi dan insfrstuktur ICT yang menghubungkan kota dengan seluruh negara dan dunia memfasilitasi aliran barang, jasa dan modal sebagaimana sirkulasi orang dan ide.

Katalis inovasi. Kota-kota menjadi inovatif karena industri dan lembaga yang ada menjadi inti aktivitas baru dan memulai reaksi berantai. Proses tersebut dapat diinisiasi oleh beberapa katalis: transfor- masi universitas lokal, penciptaan lembaga baru, dan lainnya.

(dicuplik dari Yananda dan Salamah. (2014). (Ed.) Branding Tempat: Membangun Kota, Kabupaten, dan Propinsi Berbasis Identitas, hal.20-32)

Leave a Reply