Today: January 17, 2018

Pembangunan Perkotaan dan KBE

January 11, 2017 @ 12:31 pm
posted by rahmat yananda

Kehadiran investasi asing membawa industri berbasis teknologi yang mampu mempromosikan dan mendorong ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-based economy/KBE) adalah kabar menggembirakan untuk Indonesia. Laporan yang bertajuk “Indonesia Innovation Profile” dalam Innovation in Southeast Asia (OECD, 2013) dapat menggambarkan keadaan Indonesia dalam pembangunan KBE yang ditopang oleh  ilmu pengetahuan, teknologi dan inovasi, masih merupakan perjalanan panjang. Pembangunan ekonomi Indonesia masih bertumpu pada perdagangan dan ekspor bahan mentah. Bahkan Keseriusan pemerintah untuk membangun kelembagaan mendapatkan manfaat dari KBE juga perlu dipertanyakan.

Banyak negara telah memanfaatkan KBE sebagai strategi pembangunan nasional. Jepang adalah pionir di Asia. Korea Selatan tercatat sebagai negara yang menginspirasi dan mendapatkan apresiasi luas atas keberhasilannya memaksimalkan manfaat dan potensi KBE, melejitkan pembangunan ekonomi negara tersebut. Kemudian menyusul China dan India yang tengah mendapatkan momentum. Laporan ADB (2007) juga menyebutkan negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia dan Thailand adalah negara-negara yang mulai memiliki pratek-praktek terbaik pemanfaatan inovasi dalam pembangunan nasional.

Kehadiran Foxconn, perusahaan yang memproduksi komponen telepon genggam dan telepon pintar untuk merek-merek terkenal asal Taiwan, untuk membuka pabrik di Indonesia telah bergaung semenjak 2012. Awalnya, Banten (Cikande) dan Yogyakarta akan menjadi pilihan  basis manufaktur Foxconn di Indonesia, tetapi tidak terjadi.  Setelah beberapa lama,  Jakarta terpilih sebagai lokasi pabrik. Pemerintah DKI Jakarta menyambut dengan tangan terbuka kehadiran mereka dan siap mendukung, seperti menyiapan lahan sebagai lokasi pabrik yang ternyata cukup luas.

KBE memiliki evolusi lintasan yang memungkinkan lahir, berkembang dan menopang kelembagaan. Daerah-daerah yang pernah menjadi basis industri dan jasa adalah lokasi yang baik untuk penyemaian KBE karena sebagian besar infrastruktur telah tersedia. Di samping membutuhkan infrastruktur fisik dan information communication technology (ICT) yang memadai, KBE mengandalkan SDM ahli dan terampil. Region perkotaan dan kota menjadi lokasi ideal bagi pertumbuhan KBE karena ketersediaan infastruktur tersebut. Universitas, pusat penelitian, dan pelatihan adalah pusat SDM. Belum lagi luberan akibat aglomerasi dari klaster industri yang telah ada akan memperbanyak pasokan sumber daya manusia.

Indonesia telah terlambat memanfaatkan  potensi KBE dalam pembangunan ekonomi nasional. Karenanya kehadiran perusahaan seperti Foxconn haruslah secara bijak diposisikan dalam strategi pembangunan  nasional yang menyeluruh. Khususnya dalam konteks pembangunan perkotaan  sebagai mesin pertumbuhan dan tempat hidup yang layak. Ada dua masalah yang harus diperhatikan: (1) pertumbuhan manufaktur baru di kota seperti Jakarta akan menambah beban kota dan (2) penambahan manufaktur di Jakarta hanya akan memperlebar jurang pembangunan Jakarta dengan daerah lain di Indonesia.

Pembangunan Perkotaan

Pembahasan beragam masalah Jakarta yang telah berlangsung lama dan berlarut-larut sudah menjadi klise. Cerita banjir dan macet Jakarta sudah membosankan. Bahkan, warga kota sudah menerimanya sebagai realitas sehari-hari karena solusi yang ditawarkan pemerintah kota selalu terlambat dan tidak tuntas. Warga kota menyiasati masalah tersebut secara individual. Khususnya kemacetan yang terjadi sepanjang hari. Perencanaan pembangunan tersentralisasi telah memberi berkah Jakarta akan beragam infrastruktur yang diperlukan untuk mendukung kegiatan pelayanan, perdagangan dan industri. Akibatnya, aktivitas ekonomi menumpuk di Jabodetabek melahirkan aglomerasi. Manfaat aglomerasi menarik pelaku-pelaku usaha baru karena mendapatkan efisiensi.

Pajak, lapangan kerja baru,  orientasi pada teknologi tinggi, dan polusi yang terkelola merupakan daya tarik yang sulit untuk ditolak pemerintah kota. Manufaktur berteknologi tinggi memanfaatkan karyawan ahli dan terampil memiliki pendapatan memadai untuk hidup di perkotaan. Semakin tinggi pendapatan, semakin mandiri warga kota, maka semakin minimal pemerintah mengeluarkan biaya atau subsidi. Warga kota dengan pendapatan cukup tidak membutuhkan subsidi pendidikan dan kesehatan dari pemerintah karena mampu membayar sendiri sesuai selera masing-masing. Kesehatan dan pendidikan mendapatkan subsidi yang besar dalam APBD DKI.

Akan tetapi, sebagai akibatnya, Jakarta akan semakin sesak dan beban pemerintah daerah dan permasalahan baru berkembang. Pertambahan penduduk pasti terjadi sejalan dengan pertambahan tenaga kerja. Pertambahan tersebut membutuhkan pelayanan baru, misalnya perumahan dengan segala layanan pendukungnya. Layanan tersebut tidak mudah disediakan seperti lahan perumahan, layanan air bersih, pengelolaan sampah, transportasi umum dan lain-lainnya. Dan pertambahan penduduk tersebut juga diikuti oleh perkembangan sektor informal. Sektor ini akan menimbulkan problematika baru bahkan mampu mengurangi manfaat yang didapatkan kota. Kota akan kembali mengeluarkan biaya-biaya baru. Sementara itu,  perusahaan tidak memiliki tanggung jawab menyelesaikan berbagai masalah tersebut karena telah membayarkan segala kewajiban. Kota yang akan menanggung akibatnya.

Pertambahan manufaktur di dalam kota akan mendorong penambahan orang-orang berdatangan. Sebaliknya,  Jakarta membutuhkan pengurangan. Karenanya, Foxconn dapat saja berlokasi di Bodetabek. Kebutuhan lahan, infastruktur pendukung, sumber daya manusia ahli dan terampil, serta akses ke pasar tetap tersedia. Apalagi jaringan region perkotaan Jabodetabek telah terhubung termasuk jaringan pelabuhan laut dan udara. Sedangkan kampus-kampus besar seperti UI dan IPB berlokasi di luar Jakarta. Jika segala daya dukung tersebut masih kurang, jarak Jakarta ke kota-kota tetangga tersebut masihlah dalam jarak yang ekonomis. Karenanya, Jakarta tidaklah harus menjadi lokasi  manufaktur baru. Bogor, Depok, dan Tangerang  bisa menjadi pilihan.

Memberikan kesempatan pada kota tetangga Jakarta akan mempromosikan pertumbuhan region perkotaan menjadi polisentris. Jabodetabekjur adalah region monosentris dengan Jakarta sebagai kota inti. Mendorongnya menjadi polisentris adalah “berbagi” dengan kota tetangga akan mengurangi kepadatan. Sebaliknya, “keserakahan” Jakarta akan memperparah kepadatan, Region perkotaan Jabodetabekjur yang polisentris menjadi suatu keharusan jika hendak  mengurangi beban Jakarta. Dominasi Jakarta bisa lebih fokus pada posisi sebagai kota global bersaing dengan Kuala Lumpur, Bangkok, dan kota-kota global sebagai kota jasa.

Pembangunan Regional

Jepang mempromosikan pembangunan ekonomi wilayah berbasis teknologi, yang disebut teknopolis, untuk mengurangi kesenjangan pembangunan secara regional. Kementerian Perdagangan Internasional dan Industri Jepang (MITI) menciptakan beberapa kota pengetahuan (science cities) di daerah pinggiran dalam rangka mempromosikan secara simultan teknologi baru dan pembangungan region tertinggal. Miliu inovasi baru ditransfer dari pusat ke daerah untuk menciptakan daerah komersial teknologi karena memiliki keterbatasan kapasitas. Hal tersebut dicapai melalui banyak strategi: konsentrasi riset publik dan privat, promosi teknologi campuran, pembaharuan laboratorium universitas, pembangunan pusat teknologi baru, pembiayaan gabungan proyek R&D, dan  penyediaan pembiayaan R&D.

Jepang mengalami ketidakseimbangan pembangunan regional akut yang semakin memburuk semenjak PD II. Awal tahun 1980, jumlah penduduk Tokyo seperempat penduduk Jepang. Tiga area metropolitan utama (Tokyo, Nagoya dan Osaka) merupakan daerah paling terurban membentang sepanjang 300 mil di sebagian koridor Tokaido. Kapasitas inovasi yang mendorong Jepang menjadi salah satu super power ekonomi semenjak 1950 seperti laboratorium, ilmuwan, dan universitas berlokasi dominan berlokasi di Greater Tokyo dan Osaka. Visi MITI tahun 1990 menyatakan, teknopolis adalah kota  yang secara efektif mengombinasikan sektor industri terdiri atas elektronik, permesinan, dan teknologi maju lain dengan sektor akademis dan residensial. Konsep tersebut bertujuan mempromosikan pembangunan regional dan budaya regional baru di bawah pimpinan kemajuan industri dan akademis (Castells dan Hall, 1996).

Disamping keinginan pemerintah untuk mengoptimalkan manfaat KBE, investasi Foxconn dapat juga mempromosikan pengurangan kesenjangan pembangunan regional. Di samping region perkotaan Jabodetabekjur juga telah tumbuh greater atau metropolitan arena akibat penjalaran pertumbuhan suatu kota, misalnya Bandung dan Surabaya. Kota-kota tersebut juga telah memiliki infrastruktur KBE. Untuk mengurangi primasi region perkotaan Jakarta dengan kota-kota lain di Indonesia,  kota-kota tersebut bisa saja menjadi pilihan lokasi pabrik Foxconn.

Investasi Foxconn membuka pabrik hanyalah suatu contoh kasus. Memaksakan pembangunan manufaktur di Jakarta hanya akan menambah beban dan mengurangi daya saing kota tersebut. Menempatkan manufaktur baru di tetangga Jakarta akan membuka region Jabodetabekjur menjadi polisentris yang lebih bermanfaat dan mengurangi beban kawasan, khususnya Jakarta. Dan akan lebih baik lagi jika manufaktur baru berlokasi di greater/metropolitan lain yang akan mengurangi primasi Jakarta dan kesenjangan pembangunan regional.

Leave a Reply