Branding Kota

Branding Kota

May

04

Paradigma Sharing Transportasi Publik


Oleh: M. Rahmat Yananda

               Apa kontribusi transportasi daring terkait masalah perkotaan seperti kemacetan, polusi dan kenyamanan?  Apakah transportasi daring menjadi bagian dari sistem transportasi perkotaan atau  sistem yang berjalan paralel dengan sistim yang ada? Jika kontribusi transportasi daring belum signifikan, maka transportasi daring seharusnya diintegrasikan ke dalam sistim transportasi yang ada. Jika transportasi daring mampu menjadi solusi masalah-masalah tersebut, maka transportasi daring seharusnya dipromosikan menjadi sistim transportasi publik baru. Pemerintah dan Pemerintah Daerah dapat menjadikan pertanyaan dan jawaban tersebut sebagai salah satu acuan mengatur keberadaan transportasi daring di perkotaan.

               Telah terjadi konflik antara transportasi konvensional dengan transportasi daring khususnya di region perkotaan. Kehadiran transportasi daring telah melahirkan persaingan yang tidak sehat di sektor transportasi mengacu UU No.22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Jalan. Merujuk undang-undang tersebut, transportasi daring (taksi) tidak diatur sebagai moda angkutan umum. Bahkan sepeda motor (ojek daring) tidak memenuhi syarat sebagai angkutan umum.  Pemerintah kemudian menerbitkan Permenhub untuk mengatur keberadaan transportasi daring dengan memberikan beberapa kekhususan. UU No.22 tahun 2009 tidak mengantisipasi kehadiran transportasi daring sebagai bagian dari angkutan akibat kemajuan teknologi informasi dan komunikasi.

               Penerbitan Permenhub dengan sejumlah perbaikan menunjukan besarnya perhatian dan akomodasi Pemerintah terhadap kehadiran dan dampak transportasi daring. Akan tetapi perhatian tersebut belum sebanding dengan perhatian Pemerintah dan Pemerintah Daerah untuk menjadikannya sebagai bagian dari solusi  terpadu mengatasi kemacetan, polusi dan meningkatkan kenyamanan, yang telah lama merugikan kota dan warga. Selama ini, Pemerintah (Pusat dan Daerah) mengandalkan penyempurnaan angkutan umum sebagai solusi masalah-masalah tersebut walaupun masih jauh dari harapan. Penggunaan angkutan umum bertujuan untuk mengurangi pemakaian kendaraan pribadi yang dapat mengurangi kemacetan dan polusi.

               Transportasi daring hadir ditengah-tengah buruknya layanan sistem transportasi publik. Dalam sistem transportasi publik, angkutan umum menjadi moda utama perjalanan warga. Karena buruknya pelayanan angkutan umum, kehadiran transportasi daring yang ternyata lebih mirip angkutan pribadi mendapatkan sambutan dari penumpang. Penumpang mendapatkan pelayanan yang lebih baik dengan biaya yang lebih terjangkau.  Akibatnya, penumpang angkutan umum cenderung memilih ojek daring sebagai moda transportasi andalan yang sangat berpengaruh pada berkurangnya jumlah pengguna angkutan umum di Jakarta (ITDP Indonesia, 2018). Terjadi perpindahaan penumpang dari transportasi publik (angkutan umum) ke angkutan pribadi (sepeda motor), yang berpotensi bermasalah karena tidak mengurangi jumlah kendaraan. Peralihan penumpang tersebut juga membuka konflik antara transportasi konvensional (angkutan umum dan ojek) dengan transportasi daring. Pemerintah kemudian mengupayakan penyelesaian konflik tersebut dengan menerbitkan Permenhub.

               Penyelesaian konflik antara transportasi konvensional dengan transportasi daring sebaiknya diselesaikan di tingkat Pemerintah Daerah, khususnya di region perkotaan seperti Jabodetabek. Kompleksitas masalah karena kehadiran transportasi daring berbeda-beda. Jika di region perkotaan, seperti Jabodetabek, konflik  terjadi karena persaingan yang kurang sehat sesama penyedia jasa transportasi. Sedangkan di tempat lain  kehadiran transportasi daring sangat dibutuhkan karena kurangnya sarana transportasi. Masalah kehadiran transportasi daring lebih memiliki konteks perkotaan. Region perkotaan seperti Jabodetabek membuka kesempatan yang luas kepada moda transportasi baru yang nyaman dan murah. Tingginya permintaan dan kemudahan akses, khususnya ketersediaan infrastruktur informasi dan komunikasi sebagai tulang punggung layanan daring, menyebabkan transportasi daring menjadi pilihan penumpang.

Paradigma Sharing

               Paradigma Sharing dapat menjadi rujukan pengaturan transportasi daring di perkotaan. Kota dengan kepadatan orang dan aktivitas hanya dapat berjalan berkesinambungan jika mampu menyelenggarakan kehidupan secara bersama-sama. Paradigma Sharing yang didukung oleh teknologi membuatnya lebih efisien dengan jangkauan yang lebih luas. Paradigma Sharing adalah kumpulan konsep-konsep, yang sebagian pernah ada dan menguat kembali, semenjak internet menjadi infrastruktur penting di berbagai sektor kehidupan. Internet menyebabkan informasi menjadi elemen penting di bidang ekonomi,  yang melahirkan konsep-konsep seperti acces economy, circular economy, collaborative consumption, collaborative economy, gift economy, gig economy, on demand economy, peer economy, rental economy, dan sharing economy (Ratchel Botsman, 2015).  Dalam Paradigma Sharing, berbagi dilakukan dalam bentuk barang, jasa dan aktivitas antara individu, kelompok dan publik (Duncan McLaren dan Julian Agyeman, 2015: MIT). Sharing dapat berorientasi profit dan nonprofit. Teknologi informasi dan komunikasi dengan kemampuan jangkauannya mengoptimalkan sharing menjadi murah dan efisien.

                Dalam Paradigma Sharing, pemakaian barang dimaksimalkan untuk menghindari ketidakterpakaian. Kendaraan yang terpakir (idle) dianggap tidak maksimal pemakaiannya dapat dimanfaatkan pihak-pihak lain. Seseorang tidak perlu memiliki kendaraan selama dapat memanfaatkan kendaraan lain atau fungsi dari kendaraan.  Oleh karena itu dalam Paradigma Sharing, akses menjadi lebih penting daripada kepemilikan. Akses juga memungkinkan para pihak secara bersama-sama berbagi pemakaian, secara bersamaan maupun bergantian.  Penumpang dapat berkendaraan bersama-sama atau memakai kendaraan tersebut secara bergantian. Pemakaian secara bersama mendorong konsumsi bersama. Akses dimediasi teknologi memaksimalkan konsumsi bersama agar lebih efisien. Dampaknya, konsumsi bersama menghemat pemakaian sumber daya dan mengurangi dampak lingkungan.

                Memanfaatkan Paradigma Sharing, Pemerintah Daerah menguatkan kembali nilai-nilai publik (bersama/berbagi), bukan nilai-nilai perorangan. Transportasi daring sebaiknya diselenggarakan dalam Paradigma Sharing untuk meningkatkan kualitas kota. Transportasi daring seharusnya menjadi bagian dari sistim transportasi yang ada jika berfungsi menyerupai kendaraan pribadi. Keberadaan  transportasi daring  tersebut tidak akan mengurangi kemacetan dan polusi, hanya terbatas pada peningkatan kenyamanan penumpang.

                Apabila Pemerintah dan Pemerintah Daerah mampu memadukan penyelenggaraan transportasi umum dengan transportasi daring dalam Paradigma Sharing , maka terbuka peluang angkutan daring akan menjadi pengungkit transisi dari sistem transportasi umum yang ada  menjadi sistem transportasi publik yang baru, mengikuti kemajuan teknologi.

                Kehadiran teknologi informasi dan komunikasi telah memberikan makna baru terhadap konsep “publik”. Berkat kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, warga dan komunitas,  pemerintah, penyedia angkutan, dan penyedia jasa teknologi secara bersama-sama memproduksi  layanan transportasi. Sistim transportasi publik di era daring dapat didefinisikan sebagai penyelenggaraan layanan transportasi publik  yang diproduksi  secara bersama.

Leave a Reply