Branding Kota

Branding Kota

May

06

Kota dan Inovasi


Kota dan Inovasi

M Rahmat Yananda

KOMPAS, 07 Agustus 2013

Sebuah kota ternyata bisa bangkrut. Ekonom Edward Glaeser (2011) menyampaikan fakta-fakta yang menjadi pertanda kebangkrutan Detroit, sebuah kota industri di Amerika Serikat.

PUDARNYA pamor Detroit pertama-tama terlihat dari statistik penduduknya. Sejak tahun 1950 sampai 2008, populasi kota menyusut di atas satu juta orang atau sekitar 58 persen. Sepertiga penduduk Detroit hidup dalam kemiskinan. Tahun 2009, angka pengangguran 25 persen, 9 persen lebih tinggi dari kota besar lain dan 2,5 kali angka rata-rata nasional. Tahun 2008, Detroit adalah kota dengan tingkat pembunuhan tertinggi di AS, sepuluh kali lebih tinggi dari New York.

Menurut Glaeser, kebangkrutan Detroit ─yang tadinya simbol industri otomotif di AS ─karena kota tersebut mematikan daya inovasi ekonomi kota. Perusahaan-perusahaan kecil atau industri rumahan terpinggirkan dan diganti oleh manufaktur besar seperti pabrik mobil Ford. Idealnya, kota tempat pembiakan ide-ide yang digerakkan perusahaan kecil dan menengah. Pemain-pemain menengah dan kecil ini mendorong interaksi dan peluberan pengetahuan.

Berbeda dengan inovasi, produksi massal tidak membutuhkan manusia kreatif seperti wirausahawan. Dalam kasus Detroit, para wirausahawan yang inovatif digantikan pekerja-pekerja pabrik. Manufaktur dengan produk massal membutuhkan pekerja dalam jumlah besar dan menuntut kota menyediakan fasilitas dan pelayanan yang juga besar, misalnya penyediaan perumahan dalam skala besar. Ketika aktivitas ekonomi menurun, kota tetap harus menyediakan pelayanan dengan biaya sama. Inilah awal kebangkrutan kota.

Ketika Detroit menurun, respons manajer kota tidak tepat. Bukannya membangun daya ekonomi baru dengan membiakkan perusahaan-perusahaan kecil, Detroit malah membangun gedung dan proyek konstruksi skala besar yang bersifat simbolik: lapangan tim hoki Detroit Red Wing, Renaissance Centre, dan kawasan baru untuk pabrik Ford. Padahal, Henry Ford justru memulai pembuatan mobilnya di rumah pertanian keluarga.

Di Detroit, Ford berhasil membuat perakitan mobil skala besar dengan memanfaatkan tenaga kerja kurang terampil. Namun, tenaga kerja kurang
terampil dalam jumlah besar kemudian menjadi masalah untuk pembangunan ekonomi kota dalam jangka panjang.

Inovasi dan kota

Pengaruh Revolusi Industri terhadap pertumbuhan kota-kota modern memperkuat kenyataan bahwa kota dideterminasi oleh kapitalisme. Kota-kota besar dunia adalah pusat aktivitas ekonomi kapitalis. Oleh karena itu, manajer kota perlu memiliki kesadaran untuk selalu siap ”bernegosiasi”: mengambil manfaat terbanyak demi pemangku kepentingan kota. Dengan demikian, pilihan kebijakannya sejalan dengan kesepakatan para pemangku kepentingan.

Kota juga sangat dipengaruhi perkembangan teknologi. Penemuan teknologi transportasi menjadikan jarak kurang menjadi masalah. Perkembangan ICT (Information and Communications Technology) juga akan mendeterminasi arah perkembangan kota. Awalnya, Singapura strategis berkat lokasinya secara geografis. Saat ini, Singapura menjadi strategis karena mampu memberikan pelayanan prima sebagai hub untuk konsumen kota, baik lokal maupun global, sejalan dengan perkembangan ICT. Perkembangan ekonomi dan teknologi membuat kota bersifat dinamis sehingga perlu pengelola yang dinamis penuh inovasi.

Menurut Neo dan Chen (2007), fondasi utama pemerintahan dinamis adalah budaya dan kapabilitas. Pemerintah dinamis menerapkan kebijakan adaptif dengan tiga faktor utama, yaitu berpikir ke depan (thinking ahead), berpikir ulang (thinking again), dan berpikir silang (thinking across), yang harus didukung masyarakat yang disiapkan untuk perubahan serta proses cepat dan akurat.

Manajer kota Detroit gagal karena membiarkan matinya daya inovasi kota dengan terpinggirkannya perusahan kecil dan menengah yang membangun path ekonomi dan daya saing kota sejak awal. Detroit sebenarnya mendapat kesempatan berpikir ulang mengenai arah pembangunan ekonomi kota, tetapi responsnya keliru dengan mengedepankan pembangunan infrastruktur ketimbang manusia. Detroit juga gagal berpikir silang dengan mencontoh keberhasilan kota New York yang bangkit sebagai kota jasa keuangan setelah mengalami penurunan di sektor manufaktur.

Di Indonesia

Bagaimana dengan Jakarta dan kota-kota besar lain di Indonesia? Para manajer kota perlu menyadari ketidakpastian dan kondisi dinamis adalah variabel melekat dalam pembangunan kota. Kota-kota di negara tetangga, misalnya Singapura dan Kuala Lumpur region, telah mengantisipasi masa depan dan tengah bergerak membangun perekonomian berbasis pengetahuan (knowledge-based economy) karena bernilai tinggi. Basisnya sumber daya manusia, pusat penelitian, infrastruktur TI, dan kerja sama dengan swasta.

Akan halnya Jakarta, ibu kota kita masih berkutat dengan persoalan macet dan banjir. Padahal, ada banyak masalah lain dan perlu secepatnya disikapi. Pertumbuhan penduduk yang mulai bergeser memenuhi wilayah suburban perlu diantisipasi dengan pembangunan infrastruktur transportasi yang memadai. Menurunnya kondisi lingkungan kota berdampak pada kesehatan warga dan menggelembungnya anggaran kesehatan. Ketimpangan ekonomi membuat daya beli sebagian warga lemah. Penyediaan air bersih belum merata.

Jika masalah-masalah di atas terus berlanjut, Jakarta bisa saja ambruk. Kemacetan Jakarta yang menggila menyebabkan beraktivitas di kota menjadi tidak lagi ekonomis dan lama-kelamaan kota akan ditinggalkan. Manajer kota perlu berinovasi dengan berpikir ke depan, berpikir ulang, dan berpikir silang.

Leave a Reply