Branding Kota

Branding Kota

Jan

13

Identitas Kompetitif Jakarta


Jakarta yang akan mencari pemimpin untuk periode 2017 – 2022 seharusnya mendapatkan gubernur yang mampu mendorong pembangunan region perkotaan Jakarta;  menjadi Jakarta teladan pembangunan kota – kota nasional;  dan Jakarta membangun reputasi bangsa sebagai kota global.  Jakarta harus melakukan hal tersebut karena memiliki fungsi – fungsi unggul dan sumber daya perkotaan.

Perdebatan Pemilukada DKI Jakarta 2017 sarat dengan isu – isu lokal terkait pembangunan infrastruktur, efektivitas birokrasi dan pemimpin, program pelayanan warga dan lain – lain. Perdebatan isu terjadi antar kandidat dan tak kalah serunya adalah perdebatan anggota tim sukses dan pendukung (baca : follower di media sosial). Sayangnya, perdebatan tersebut belum mengantarkan pemilih dan khalayak secara tegas pada posisi di mana Jakarta akan ditempatkan dalam pembangunan tingkat region perkotaan, nasional dan global. Tulisan ini mencoba membantu memosisikan Jakarta dalam tingkat global, yang kemudian bisa dimanfaatkan menjadi salah satu panduan (top down) bersama – sama dengan aspirasi pemangku kepentingan kota (bottom up) untuk tingkat regional dan nasional.

Beberapa isu penting perkotaan seperti kota global,  kota berkelanjutan dan layak huni, kota inovatif dan pintar, kota berdaya saing dan masa depan, diharapkan menjadi bagian dari perdebatan dalam Pemilukada DKI Jakarta 2017. Salah satu perangkat yang dapat dimanfaatkan untuk mengongkritkan isu – isu tersebut dalam pembangunan kota adalah city branding. City branding adalah perangkat pemasaran yang dipinjam untuk kepentingan sektor publik, misalnya pembangunan kota. Dan perangkat ini, terlepas dari kontroversi dan perdebatan yang dimunculkan, telah menjadi salah satu perangkat penting membangun daya saing.

City branding sebagai konsep telah berkembang dari kekhawatiran sebagai sekedar perangkat “penjualan kota” (neoliberal) menjadi pengungkit daya saing kota berbasis pemangku kepentingan (sosial-politik). Dalam bukunya, The Political Economy of City Branding (2014) , Anttiroiko menyatakan bahwa branding adalah konsep yang berelasi dengan dua konsep lain, yaitu profil ekonomi dan peringkat kota. Sebagian elemen brand Jakarta bisa didapatkan dari evaluasi dan peringkat Jakarta dalam beragam dimensi/indikator/indeks kinerja kota dibandingkan dengan kota – kota global.

Peringkat Jakarta

Berbagai lembaga (profit dan nonpropfit) melakukan pemeringkatan terhadap kota – kota di dunia. A.T Kearney, konsultan manajemen global yang mempublikasikan Global Cities Index (2016) memeringkat kota berdasarkan index (aktivitas bisnis, sumber daya manusia, pertukaran informasi, pengalaman budaya dan keterlibatan politik dan outlook (kesejahteraan, ekonomi, inovasi dan tata kelola).  Knight Frank, konsultan real estate global  yang mempublikasikan Global Cities (2016) membandingkan perkembangan real estate dan infrastruktur di berbagai kota – kota dunia. Economist Inteleligence Unit (The Economist) mempublikasikan Global Liveability Rangking (2015) dengan beberapa kategori seperti stabilitas, kesehatan, budaya dan lingkungan, pendidikan dan infrastruktur. Arcadis perusahaan desain dan konsultan global mempublikasikan Sustainable Cities Index (2016) dengan tiga atribut beserta turunannya sebagai indikator, yaitu people (sosial), planet (lingkungan) dan profit (ekonomi). MORI Foundation mempublikasikan Global City Power Index (2016) memanfaatkan (enam) fungsi utama dan 5 (lima) aktor kota. Berdasarkan evaluasi dan pemeringkatan lembaga – lembaga tersebut Jakarta berada di posisi 56 (index) dan 110 (outlook) dari 125 kota ( AT Kearney); tidak masuk dalam pemeringkatan Knight Frank; posisi 116 dari 134 kota (EIU-The Economist); posisi 88 untuk dari 100 kota (Sustainable Cities, Arcadis).

Pemeringkatan yang dilakukan MORI Foundation dengan publikasi bertajuk Global Power City Index (GPCI) patut menjadikan rujukan penting. Di bawah naungan  pakar – pakar perkotaan dengan reputasi global seperti Peter Hall (alm), Saskia Sassen, Allen J.Scott, Peter Nijkamp, Richard Bender, Michael Batty dan pengulas Andres Rodriguez-Pose dll dan berbasis di Tokyo, lembaga tersebut melakukan evaluasi dan pemeringkatan kota – kota utama dunia berdasarkan 6 (enam) fungsi yang merepresentasikan kekuatan suatu kota seperti ekonomi, riset dan pengembangan, interaksi budaya, layak huni, lingkungan dan akses. Indeks ini juga menelaah perspektif lima aktor global yang mendorong aktivitas kota, yaitu manager, peneliti, seniman, pendatang dan warga. Kelebihannya, tidak hanya terpaku pada indeks keuangan, layak huni atau pembangunnan fisik/infrastruktur. Dan seleksi kota – kota diawali dengan kriteria yang eksis oleh lembaga – lembaga pemeringkat di atas.

Laporan GPCI 2016 mengevaluasi dan memeringkat 42 kota dengan secara khusus memasukan Johannesburg dan Jakarta sebagai kota yang berkembang pesat. Secara berurutan, 10 (sepuluh) peringkat atas GPCI 2016 adalah London, New York, Tokyo, Paris, Singapura, Seoul, Hongkong, Amsterdam, Berlin dan Wina. Jakarta berada di peringkat 40, nomor tiga dari bawah, sebelum Johannesburg dan Kairo. Jika Jakarta dibandingkan dengan kota – kota tetangga di Asia Tenggara, Kuala Lumpur berada di peringkat 32 dan Bangkok di peringkat 34.

Berdasarkan pemeringkatan lebih khusus untuk fungsi utama kota dan dibandingkan kota – kota di Asia, Jakarta berada di peringkat 41 untuk ekonomi; peringkat 42 untuk riset dan pengembangan; peringkat 40 untuk interaksi dan budaya di atas Taipei (41) dan Fukuoka (42) ; peringkat 38 untuk layak huni di atas Singapura (40); peringkat 36 untuk lingkungan di atas Shanghai (39) dan Beijing (41); serta peringkat 39 untuk akses di atas Mumbai. Sedangkan berdasarkan aktor – aktor kota, Jakarta menempati peringkat 41 hanya satu peringkat di atas Johannesburg di peringkat terbawah untuk peringkat khusus manajer, peneliti, pendatang dan warga. Jakarta berada di urutan 35 untuk seniman di atas Zurich, Sydney, Jenewa, Johannesburg, Singapura, Taipei dan Hongkong.

Profil Jakarta

Berdasarkan evaluasi dan pemeringkatan fungsi dan aktor  peringkat 10 (sepuluh) besar kota – kota global ada di tiga benua yaitu Eropa (London, Paris, Amsterdam, Berlin, dan Wina); Asia (Tokyo, Singapura, Seoul, Hongkong); dan Amerika Utara (New York). Secara kumulatif, kota – kota Asia ternyata tampil dominan dan hanya terkalahkan oleh kota – kota Eropa. Bahkan kota – kota Asia jauh meninggalkan kota – kota Amerika (Utara dan Latin), Australia dan Afrika. Belum ada kota – kota dari Amerika Latin, Australia dan Afrika yang masuk dalam peringkat 10 besar. Dari 13 (tiga belas) kota – kota Asia urutan diisi oleh Tokyo (3), Singapura (5), Seoul (6), Hongkong (7), Shanghai (12), Beijing (17), Osaka (22), Kuala Lumpur (32), Taipei (33), Bangkok (34), Fukuoka (36), Mumbai (39), dan Jakarta (40). Khusus di Asia Tenggara, Singapura jauh memimpin  disusul  Kuala Lumpur, Bangkok dan Jakarta.

Untuk kepentingan pemosisian Jakarta lima tahun depan, sebaiknya perbandingan dibatasi pada tiga kota, yaitu Kuala Lumpur, Bangkok dan Jakarta. Berdasarkan fungsi, berikut perbandingan tiga kota tersebut: (1) ekonomi, Kuala Lumpur (22), Bangkok (30), dan Jakarta (41); (2) riset dan pengembangan, Kuala Lumpur (29), Bangkok (33), dan Jakarta (42); (3) interaksi budaya, Bangkok (18), Kuala Lumpur (33), dan Jakarta (40); (4) layak huni, Kuala Lumpur (20), Bangkok (24) dan Jakarta (38); (5) lingkungan, Kuala Lumpur (31), Bangkok (33), dan Jakarta (36); dan (6) akses, Bangkok (19),  Kuala Lumpur (25), dan Jakarta (39).

Dari urutan tersebut, Jakarta tertinggal pada fungsi ekonomi, riset dan pengembangan, interaksi budaya, layak huni dan  akses. Jakarta tidak tertinggal jauh pada fungsi lingkungan. Fungsi lingkungan memiliki 3 (tiga) kelompok indikator kelompok seperti ekologi, kualitas udara, dan lingkungan alam. Ketiga kelompok tersebut  diturunkan menjadi indikator yang terdiri atas jumlah perusahaan dengan sertifikat ISO 14001, persentase pemanfaatan energi terbarukan, persentase sampah yang didaur ulang, emisi CO2, massa jenis suspended particulate matter (SPM), massa jenis sulfur dioksida (S02), massa jenis nitrogen dioksida, kualitas air sungai, jumlah area hijau, dan temperatur udara.

Branding Jakarta

Sebagian pemikiran Simon Anholt terkait branding tempat berdasarkan konsep identitas kompetitif tempat dan menjadikanya sebagai kebijakan strategis (Competitive Identity, 2007;  Places, Identity, Image and Reputation, 2010) dapat dipinjam sejalan dengan kebutuhan Jakarta. Kandidat Gubernur Jakarta harus mampu memadukan strategi, substansi dan tindakan simbolik.

Melalui strategi, pemimpin memahami profil kota (who) dan mengetahui di mana (where) kota berdiri memosisikan diri hendak ke mana dengan cara apa (where to and how to). Berdasarkan evaluasi dan rangking di atas, Jakarta dapat menjadikan lingkungan sebagai brand payung (identitas) dan menyatakan lingkungan sebagai paradigma pembangunan kota. Menjadikan lingkungan sebagai paradigma menempatkan Jakarta dalam posisi tidak tertinggal jauh bahkan diharapkan mampu mengejar dan bersaing dengan Kuala Lumpur dan Bangkok. Keberhasilan brand payung (lingkungan) kelak dapat diperluas menjadi brand lain seperti layak huni mengingat Jakarta memiliki peringkat di atas Singapura.

Substansi adalah eksekusi di berbagai sektor sebagai turunan brand payung seperti banjir, macet, air tanah dan penurunan permukaan tanah, infrastruktur, ruang terbuka hijau, dan khususnya anggaran dan manajemen pemerintahan dan lain – lain.

Tindakan simbolik adalah bagian dari substansi yang memiliki kekuatan /keunggulan komunikasi. Mengomunikasikan lingkungan sebagai identitas kompetitif Jakarta dengan sendirinya mengubah paradigma pembangunannya dari ekonomi ke ekologi, dari ekspansi ke konservasi. Mengubah peran Jakarta yang mendominasi menjadi berbagi  dan berkolaborasi untuk penyelenggaran region perkotaan Jabodetabekjur;  mempengaruhi secara positif brand kota – kota tetangga; memimpin pembangunan brand  kota – kota nasional; dan menjadi duta brand kota Indonesia di tingkat global.

Leave a Reply